45 Orang Dilaporkan Tewas dalam Serangan AS ke Venezuela
MOSKOW, insidepontianak.com — Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela, dilaporkan menewaskan sedikitnya 45 orang, pada Sabtu (3/1/2026). Ledakan mengguncang Caracas. Kota itu mendadak sunyi, lalu riuh oleh kabar duka.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menyebut korban terdiri atas pejabat negara, anggota militer, dan warga sipil mengutip laporan The New York Times.
Media lokal Venezuela melaporkan, serangan dilakukan oleh unit elit Delta Force. Target operasi belum diungkap secara rinci.
Namun, pusat pemerintahan disebut menjadi salah satu titik terdampak. Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Klaim itu langsung mengguncang dunia diplomasi. Pemerintah Venezuela membantah keras. Otoritas Caracas menyatakan tidak mengetahui keberadaan Maduro.
Mereka mendesak AS menunjukkan bukti bahwa kepala negara mereka masih hidup. Tak lama berselang, Trump mengunggah foto Maduro di platform Truth Social.
Foto yang diunggah itu memperlihatkan mata Maduro tertutup. Headphone menempel di telinga. Memberi pesan situasi yang menekan.
Trump mengklaim Maduro ditahan di atas kapal perang AS dan sedang dibawa menuju New York.
Sejumlah anggota Kongres AS menilai operasi tersebut ilegal dan melanggar hukum internasional.
Namun, pemerintah AS bersikukuh. Washington menyatakan Maduro akan dihadapkan ke pengadilan.
Kementerian Luar Negeri Venezuela bereaksi cepat. Caracas mengumumkan rencana membawa kasus ini ke organisasi internasional.
Mereka juga mendesak Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat. Dari Moskow, Rusia menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela.
Pemerintah Rusia mengaku prihatin atas laporan pemaksaan terhadap Maduro dan istrinya sebagai bagian dari agresi AS.
Moskow menyerukan pembebasan Maduro serta mendesak semua pihak mencegah eskalasi konflik lebih lanjut di kawasan Amerika Latin.
Tekanan Washington terhadap Caracas bukan hal baru. AS menuding Venezuela sebagai sumber gelombang migrasi besar ke perbatasan selatan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak krisis ekonomi 2013, sekitar delapan juta warga Venezuela dilaporkan meninggalkan negaranya. Mayoritas menuju negara-negara Amerika Latin. Sebagian nekat menempuh jalur berbahaya ke AS.
Trump juga menuduh pemerintahan Maduro membebaskan narapidana dan pasien rumah sakit jiwa untuk dikirim ke Amerika Serikat. Tuduhan itu kembali dibantah Caracas.
Selain itu, Venezuela dituding menjadi jalur utama penyelundupan kokain dan berperan dalam krisis fentanil yang menewaskan ribuan warga AS.
Washington menetapkan dua kelompok kriminal asal Venezuela, Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai organisasi teroris asing.
Trump bahkan secara terbuka menyebut Maduro sebagai pemimpin Cartel de los Soles. Venezuela menolak keras tuduhan itu. Caracas menyebutnya sebagai fitnah politik tanpa dasar.***
Tags :

Leave a comment