Rupiah Menguat Seiring Perang Dagang Diumumkan AS

2025-04-05 03:19:10
Petugas menyusun uang dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). (Antara/Fakhri Hermansyah/foc/aa)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Jumat pagi (4/4/2025), menguat sebesar 93 poin atau 0,55 persen menjadi Rp16.653 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.746 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, nilai tukar (kurs) rupiah menguat dipengaruhi kekhawatiran retaliasi negara-negara terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).

“Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang melemah oleh kekhawatiran retaliasi negara-negara terhadap tarif Trump akan berpotensi menyebabkan resesi di AS,” ujarnya mengutip Antara.

Salah satu negara yang berjanji untuk membalas kebijakan dari Presiden AS Donald Trump tersebut adalah Kanada. 

Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney menyatakan bahwa pihaknya akan melawan tarif ini dan bakal membangun ekonomi terkuat di G7.

Tarif sebesar 10 persen untuk barang-barang berdasarkan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) berhasil dihindari Kanada.

Tetapi barang-barang lain yang tidak tercakup dalam perjanjian tersebut akan dikenakan tarif sebesar 25 persen dan 10 persen untuk energi dan kalium.

Selain itu, akan ada tarif sebesar 25 persen untuk impor mobil asing mulai pukul 12.01 dini hari Kamis, serta tarif sebesar 25 persen untuk baja dan aluminium Kanada masih berlaku.

Meskipun Kanada dan Meksiko tampaknya telah lolos dari tarif terburuk yang diumumkan pada "Hari Pembebasan," sebagaimana Trump menyebutnya, dampaknya akan terasa, dan Mark Carney berjanji untuk membalas.

Uni Eropa (UE) juga tengah menyiapkan langkah balasan atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif 20 persen terhadap barang-barang asal Eropa.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan pihaknya sedang merampungkan paket pertama langkah balasan terhadap tarif baja, dan sedang menyiapkan langkah lebih lanjut untuk melindungi kepentingan serta bisnis UE jika negosiasi gagal.

Begitu pula China yang menolak keras terhadap tarif timbal balik yang diumumkan oleh Trump, dan berjanji akan "mengambil tindakan balasan secara tegas" untuk melindungi hak dan kepentingannya.

China menghadapi tambahan tarif sebesar 34 persen, di luar bea masuk 20 persen yang telah diberlakukan sejak awal masa jabatan kedua Trump pada Januari.

Seperti diketahui, pada Rabu (2/4), Trump mengumumkan penerapan tarif timbal balik atas impor dari berbagai negara. 

Tarif dasar yang dikenakan adalah 10 persen, tetapi Trump menyatakan AS akan membebankan tarif sekitar setengah dari yang dikenakan negara-negara lain terhadap barang asal Amerika.

Kemudian, Gedung Putih mengumumkan AS akan mulai menerapkan tarif 10 persen untuk semua impor asing pada 5 April 2025, sementara tarif yang lebih tinggi bagi negara-negara dengan defisit perdagangan terbesar dengan AS akan berlaku mulai 9 April 2025.

Lukman menilai bahwa China, UE, dan Kanada akan melakukan retaliasi sebagaimana respon keputusan tarif Trump. 

Untuk Indonesia, dia menganggap pemerintah takkan melakukan tindakan balasan karena ekonomi dalam negeri tidak besar dan kuat.

“Pemerintah sebaiknya berusaha menegosiasi dan wait and see perkembangan lebih jauh,” kata dia.

Selain itu, dolar AS turut tertekan data Institute for Supply Management (ISM) jasa yang lebih lemah dari perkiraan. 

Hal Ini mencerminkan kekhawatiran para profesional terhadap ekonomi AS ke depannya oleh kebijakan Trump. Namun, sentimen risk off di pasar ekuitas akan membatasi penguatan.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi berkisar Rp16.600-Rp16.800 per dolar AS.***

Leave a comment