Nelayan Jawai Keluhkan Kelangkaan Solar, Jatah Tak Cukup untuk Melaut

2026-01-14 15:17:10
Perahu Nelayan tradisional terparkir di Pelabuhan Sentebang Kecamatan Jawai, Rabu (14/1/2026). (insidepontianak.com/Antonia Sentia).

SAMBAS, insidepontianak.com – Nelayan di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar bersubsidi yang berdampak langsung pada aktivitas melaut mereka. 

Keterbatasan kuota membuat nelayan hanya memperoleh jatah solar dalam jumlah sangat minim, jauh dari kebutuhan operasional harian.

Iskandar, seorang nelayan Kecamatan Jawai, mengungkapkan bahwa kuota solar nelayan yang tersedia saat ini sekitar 16.000 liter per bulan. Namun, kuota tersebut harus dibagi untuk dua kecamatan, yakni Jawai dan Jawai Selatan, dengan jumlah kapal yang mengambil solar tercatat sekitar 325 unit. Padahal, total kapal nelayan di dua kecamatan tersebut diperkirakan mencapai 520 unit.

“Akibatnya, jatah yang kami terima hanya sekitar 8 sampai 11 liter per minggu. Jumlah itu jelas tidak mencukupi untuk melaut,” ujar Iskandar, Rabu (14/1/2026). 

Menurutnya, untuk sekali melaut nelayan membutuhkan rata-rata 10 liter solar per hari. Namun karena pembatasan dari pihak SPBU, nelayan tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan, tidak jarang nelayan sudah mengantre di SPBU namun tetap tidak kebagian solar.

“Kami berharap kuota solar bisa ditambah, setidaknya ditambah 16.000 liter lagi per bulan. Di daerah lain, kebutuhan solar nelayan bisa mencapai lebih dari 200.000 liter per bulan, sementara kami hanya mengandalkan satu kuota yang dibagi untuk dua kecamatan,” jelasnya.

Iskandar juga menyebutkan bahwa para nelayan telah berulang kali menyampaikan keluhan ini ke berbagai pihak, mulai dari SPBU, Dinas Perikanan, hingga ke kantor bupati. Namun hingga kini, belum ada solusi konkret yang diberikan. Alasan yang selalu disampaikan adalah keterbatasan kuota.

“Kami mohon kepada pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, serta anggota dewan yang berwenang, agar dapat membantu menambah kuota solar khusus untuk nelayan, khususnya di Kecamatan Jawai yang disalurkan melalui SPBU Dungun Laut,” pintanya.

Kelangkaan solar ini dinilai sangat membahayakan keselamatan nelayan. Iskandar mengungkapkan, pernah ada nelayan yang kehabisan solar di tengah laut karena terpaksa membawa bahan bakar pas-pasan.

“Kondisi seperti ini sangat berbahaya. Kami benar-benar berharap nasib nelayan Jawai diperhatikan, terutama terkait ketersediaan solar bersubsidi agar kami bisa melaut dengan aman dan layak,” tutupnya. (*)

Leave a comment