Di Bawah Naungan Karet, Kopi dan Harapan Tumbuh Petani Landak

2026-01-12 15:21:01
Daud, seorang petani kopi arabika di Desa Bentiang, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak/IST

LANDAK, Insidepontianak.com - Pagi di Desa Bentiang kerap dimulai dengan sunyi. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang karet, menyelimuti tanah yang lembap dan gelap.

Di sanalah Daud menanam harapannya. Bukan dalam bentuk kata-kata, melainkan bibit kopi arabika yang kini mulai belajar berbuah.

Daud bukan petani besar. Ia hanya seorang warga desa yang percaya bahwa tanah tak pernah ingkar pada kesabaran.

Beberapa tahun lalu, bibit kopi arabika ditanamnya pada lahan perkebutan seluas setengah hektar. Memang tak banyak, waktu itu dia mengaku hanya untuk percobaan belaka. 

Namun siapa sangka, dari percobaan itu, kini kopi-kopi yang sudah ia rawat itu mulai berbuah dan memberikan hasil yang cukup menjanjikan.

“Tanah harus dijaga kelembabannya. Harus ada humus,” ujarnya pelan.

Bagi Daud, kopi bukan tanaman yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia tak tahan panas berlebih. Cahaya matahari, katanya, cukup datang sebagian, tak lebih dari 60 persen.

Itulah sebabnya kebun kopi Daud tak berdiri di lahan terbuka. Bibit-bibit muda itu bernaung di bawah pohon karet. Daunnya dibiarkan gugur, menutup tanah, menjaga air tetap tinggal lebih lama.

Sesekali, ia memangkas dahan pelindung agar sinar tetap menembus, secukupnya saja.

Ia mencangkul tanah sendiri, memilih bibit terbaik sebelum menanam. Tanpa pupuk kimia, kopi itu tumbuh. Bahkan, di bawah karet, buahnya justru lebat. “Bagus sekali,” katanya singkat, seolah tak ingin berlebihan memuji hasil kerja tangannya sendiri.

Kini, meski sebagian tanaman masih muda, panen mulai memberi kabar baik. Dalam sepekan, Daud bisa memetik sekitar dua kilogram kopi.

Total panen sementara berkisar empat hingga enam kilogram. Setelah diolah menjadi biji kopi bersih atau green bean, hasil panen itu dijual dengan harga Rp60 ribu per kilogram.

Nilainya memang belum besar, tetapi cukup memberi keyakinan. Tahun ini, Daud optimistis hampir semua pohon akan berbuah.

Saat panen tiba, keluarga ikut turun tangan. Ada yang memetik, ada yang mendorong gerobak kecil menyusuri kebun, mengangkut hasil dari bawah naungan karet.

Bagi Daud, kopi bukan sekadar tanaman. Ia adalah janji. Janji tentang penghasilan jangka panjang, tentang bertani tanpa harus membuka lahan baru, tentang masa depan yang bisa dirawat pelan-pelan.

Terlebih, kopi adalah bagian dari denyut hidup masyarakat Kalimantan Barat, yang akrab dengan kopi tubruk di pagi dan sore hari.

Namun jalan Daud tidak sepenuhnya mulus. Jarak menjual hasil panen masih jauh. Penyakit tanaman kerap datang tanpa permisi. Daun menguning, buah membusuk saat hampir matang.

Pemasaran pun terbatas, belum banyak penampung. Mesin pengupas kopi masih sebatas angan, tertahan biaya.

Untuk membangun kebun itu, Daud telah menghabiskan sekitar Rp30 juta. Ia tahu betul, kopi menuntut lebih dari sekadar modal.

“Perawatannya butuh kesabaran dan keuletan,” katanya.

Minimnya penyuluhan membuatnya belajar sendiri, dari alam, dari kegagalan kecil, dari pengamatan hari demi hari.

Ia menanam kopi bukan hanya untuk dirinya. Ia ingin membuktikan bahwa di Desa Bentiang, kopi arabika dan robusta bisa tumbuh. Dan perlahan, kebunnya menjadi saksi.

Warga yang dulu ragu, kini mulai berani ikut menanam setelah melihat hasil di kebun Daud.

Di bawah naungan karet dan pisang, kopi itu tumbuh, seperti Daud: diam-diam kuat, sabar, dan percaya bahwa kerja yang jujur akan menemukan jalannya sendiri. (*)

Leave a comment