Ranking Untan Merosot, BEM Tuding Rektor Sibuk Urus Komersialisasi Kampus

PONTIANAK, insidepontianak.com - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Tanjungpura (Untan), menyoroti peringkat universitas yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan laman edurank.org, pada tahun 2023, ranking Untan berada di posisi 42. Di tahun 2024-2025 turun di peringkat 43.
Sementara, lembaga Webometrics menempatkan Untan tak lagi masuk urutan 50 besar kampus terbaik di Indonesia.
Padahal, di tahun 2018, Untan sempat masuk urutan 40 kampus terbaik dari 2.120 universitas yang ada di Tanah Air.
Webometrics mencatat, penurunan ranking Untan mulai terjadi sejak tahun 2017, di posisi 51. Di tahun 2022, semakin melorot di posisi 65. Sedangkan di 2023, peringkat Untan turun lagi di urutan 69. Dan di 2024, terjun bebas di urutan ke-79.
Webometrics adalah lembaga pemeringkatan perguruan tinggi di dunia yang berbasis website, di mana kinerja perguruan tinggi dinilai melalui indikator-indikator seperti kehadiran, visibilitas, dampak, keterbukaan, dan keunggulan.
"Tergerusnya ranking ini menjadi pertanda Untan mengalami kemunduran. Padahal, setiap tahun pemerintah terus menaikkan alokasi anggaran dana untuk membangun kualitas universitas," kata Ketua BEM Untan, Muhammad Najmi Ramadhan.
BEM Untan menuding, penurunan ranking itu terjadi karena sang rektor, Prof Garuda Wiko tak memprioritaskan pembangunan akademik. Yang ada, hanya sibuk melakukan ekspansi bisnis di lingkungan kampus.
"Lingkungan kampus kini sudah dibiarkan menjadi pusat bisnis yang tidak memiliki arah yang jelas," lanjutnya.
Bisnis kampus yang dimaksud di antaranya seperti pemberian izin operasi usaha mini soccer, hingga coffeeshop yang memicu aktivitas konsumtif mahasiswa, dan dianggap tidak ada hubungannya dengan peningkatan kualitas pendidikan.
"Coffeeshop menjadi contoh nyata bagaimana kampus mulai membuka peluang bagi praktik komersialisasi tanpa kendali," lanjutnya.
BEM Untan juga menyoroti semakin menjamurnya pedagang kaki lima di lingkungan kampus yang tak bisa diatasi berdampak pada lingkungan menjadi kumuh dan semerawut.
Penertiban PKL yang telah dilakukan tak bertahan lama. Mereka kini kembali berjualan. Ini menjadi bukti ketidaktegasan rektor menangani masalah tersebut.
"Alih-alih menyelesaikan permasalahan PKL, Untan kini justru mengizinkan coffeeshop beroperasi di area Fakultas Teknik dan lingkungan UKM Mapala Teknik," kritiknya.
Dengan berbagai persoalan itu, ditambah ranking yang terus menurun, misi rektor yang ingin mewujudkan Untan menuju World Class University, pun dianggap hanya menjadi wacana.
"Penurunan ranking ini menjadi bukti, fasilitas akademik masih jauh tertinggal," lanjutnya.
Faktanya pun, banyak bangunan kampus mangkrak. Kondisi jalan di dalam kampus juga mulai rusak dan berlubang.
"Ini menunjukkan keuntungan dari berbagai usaha komersial yang dikelola Untan tidak memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan mahasiswa maupun perbaikan lingkungan kampus," tegasnya.
Bagi Najmi, seharusnya, jika universitas benar-benar ingin menjadi kampus berkelas dunia, maka prioritas utama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan fasilitas akademik.
Namun, yang terjadi komersialisasi pendidikan lebih diutamakan dibandingkan mendorong kesejahteraan dan hak-hak mahasiswa.
"Kampus yang seharusnya menjadi pusat pengembangan intelektual dan kebebasan akademik, justru berubah menjadi institusi yang sibuk mencari keuntungan finansial," tambahnya.
Ini dapat dilihat dari kebijakan yang semakin jauh dari nilai-nilai akademik. Misalnya saja proyek-proyek besar seperti rumah sakit, klinik pratama, dan pembangunan fasilitas seperti videotron yang memerlukan dana yang tidak sedikit.
"Apakah dana tersebut benar-benar digunakan untuk kepentingan mahasiswa atau justru dialokasikan untuk kepentingan lain yang tidak jelas?" tanya Najmi.
"Proyek-proyek ini justru terkesan sebagai pencitraan semata dan tidak menyentuh kebutuhan mendasar mahasiswa," ucapnya.
Terakhir, BEM Untan juga menyoroti kekayaan rektor yang cukup fantastis. Dilansir dari laman e-LHKPN, Prof Garuda Wiko terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 25 Maret 2022 untuk periodik 2021.
Berdasarkan LHKPN tersebut, Prof Garuda Wiko mempunyai harta kekayaan sebesar Rp27.642.602.000. Terdiri dari tanah dan bangunan senilai Rp25.077.000.000.
Alat transportasi dan mesin senilai Rp767.000.000. Harta bergerak lainnya senilai Rp288.150.000. Surat berharga senilai Rp 40.200.000. Serta kas senilai Rp1.920.252.000.
"Berbanding terbalik dengan kekayaan rektornya yang semakin melejit, ranking Universitas Tanjunpura malah semakin merosot," kritik Najmi lagi.
Rektor Untan, Prof Garuda Wiko dikonfirmasi lewat pesan WhatsApp belum memberikan penjelasan mengenai penyebab ranking universitas yang terus merosot, dan komersialisasi di lingkungan kampus sebagaimana yang dikritik mahasiswa.
Pesan WhatsApp sudah dikirim dengan menyertakan pertanyaan-pertanyaan. Namun, hingga berita ini diunggah, belum mendapat balasan.***
Tags :

Leave a comment