Warga Pemangkat Sambas Keluhkan Gas LPG Subsidi Langka dan Mahal, Harga Tembus Rp50 Ribu

2026-01-13 14:22:42
Ilustratsi by AI/IST

SAMBAS, insidepontianak.com – Kelangkaan dan mahalnya harga gas LPG subsidi tiga kilogram kembali dikeluhkan warga Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Selasa (13/1/2026).

Kondisi ini disebut bukan hanya terjadi menjelang hari besar keagamaan, namun hampir berlangsung setiap hari, membuat masyarakat kecil semakin terhimpit.

Arin, warga Pemangkat, mengungkapkan bahwa harga LPG 3 kilogram di tingkat warung saat ini rata-rata dijual Rp30 ribu hingga Rp33 ribu pada hari biasa. Ironisnya, dengan harga tersebut pun gas masih sulit didapat.

“Kalau di warung, hari biasa saja rata-rata jual Rp30, Rp31 sampai Rp33 ribu, itu pun gasnya susah dicari,” katanya. 

Menurutnya, sejak lama distribusi di tingkat pangkalan juga tidak menentu. Setiap kepala keluarga hanya diperbolehkan membeli satu tabung dengan harga resmi Rp20 ribu, namun waktu distribusinya tidak jelas.

“Di pangkalan memang jual Rp20 ribu, tapi satu KK cuma dapat satu tabung. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu baru ada, nggak tentu,” ujarnya.

Situasi semakin memburuk saat memasuki bulan-bulan tertentu, seperti Desember menjelang Natal, Tahun Baru, dan Imlek. Pada periode tersebut, gas LPG subsidi disebut semakin langka, sementara harganya melonjak tajam.

“Kalau sudah mau Natal, Imlek, gas bisa naik Rp40 ribu, Rp45 ribu bahkan sampai Rp50 ribu,” ungkapnya.

Arin menilai kondisi ini tidak masuk akal, mengingat LPG 3 kilogram merupakan gas bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Ia menegaskan, bahkan di hari-hari biasa tanpa momen besar sekalipun, harga sudah tergolong mahal.

“Jangan kan hari besar, hari biasa saja sudah mahal. Ini seperti nggak pakai hati, orang sudah susah malah ditambah susah,” keluhnya.

Ia juga menyebut kelangkaan gas hampir terjadi setiap hari. Baik saat hari besar maupun hari normal, masyarakat tetap kesulitan mendapatkan LPG dengan harga wajar di tingkat warung.

“Di sini hampir tiap hari langka. Mau hari besar atau tidak, di warung tetap saja mahal dan susah,” katanya.

Arin berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera turun tangan mengatasi persoalan tersebut, terutama dalam pengawasan harga dan distribusi LPG subsidi. Ia meminta agar harga di tingkat warung tidak dibiarkan melonjak jauh dari harga wajar.

“Harapan saya cuma satu, tolong jangan bikin masyarakat susah soal gas. Kalau mau jual di warung, mentok-mentok Rp25 ribu saja. Samakan seperti di Singkawang,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti dugaan permainan distribusi di tingkat pangkalan. Menurutnya, LPG subsidi kerap berpindah dari tangan ke tangan sehingga harga terus naik dan tidak tepat sasaran.

“Jangan ada lempar sana-sini, jangan sampai banyak tangan yang main. Gas jangan disembunyikan. Ini gas subsidi, tapi dijual mahal dari tangan ke tangan,” katanya.

Ia mengatakan masyarakat sudah lelah menghadapi persoalan gas LPG yang tak kunjung selesai.

“Kami sudah capek, tiap hari urusan gas mahal terus. Harga tidak sesuai, padahal ini gas subsidi untuk masyarakat,” pungkasnya. (*)

Leave a comment