Perjuangan Titin, Seorang Guru yang Mengabdi di Ujung Paloh Sambas Lewati Jalan Penuh Lumpur

2026-01-15 18:30:40
Kondisi motor Titin guru pelosok Paloh Sambas yang terperosok di jalur jalan yang rusak parah/IST

SAMBAS, insidepontianak.com – Setiap pagi, sebelum lonceng sekolah berbunyi, Titin sudah lebih dulu bertarung dengan medan yang tak ramah. 

Guru SDN 18 Sungai Dungun, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh itu harus melewati jalan rusak, berlumpur, penuh lubang, dan genangan air demi sampai ke sekolah tempatnya mengabdi.

Saat hujan turun, kondisi jalan semakin parah. Lumpur lengket menutupi badan jalan, air menggenang di mana-mana, membuat sepeda motor sulit melaju. Tak jarang, Titin terpaksa turun dari motor dan menyeretnya perlahan agar tidak terperosok.

Baju guru yang seharusnya rapi sering kali tampak kotor terkena cipratan lumpur. Namun di balik kondisi itu, senyum tetap tersungging di wajahnya. Baginya, perjalanan berat bukan alasan untuk absen mengajar.

Berbeda dengan kebanyakan guru yang mengenakan sepatu pantofel mengilap, Titin memilih sepatu boot sebagai “seragam tempur”. 

Alas kaki itu menjadi penyelamatnya dari lumpur dan genangan air asin yang kerap merendam jalan, terutama saat air pasang.

“Medan jalannya memang ekstrem. Kalau hujan becek, kalau air pasang jalan kami banjir air asin karena berdampingan langsung dengan sungai,” tuturnya.

Perjuangan Titin bukan sehari dua hari. Ia telah mengajar di sekolah tersebut sejak tahun 2003. Dari seorang guru honorer hingga akhirnya diangkat menjadi PNS, jalan berlumpur itu setia menemani perjalanan pengabdiannya selama lebih dari dua dekade.


Titin Seorang Tenaga Pendidik di Sungai Dungun Desa Sebubus Kecamatan Paloh, harus melewati jalan rusak yang eskrim untuk mengajar/ist

Menurut Titin, memang ada perubahan dari tahun ke tahun. Jalan tanah pernah ditimbun batu untuk memudahkan akses. Namun seiring waktu, timbunan tersebut kembali terbenam, rata dengan tanah, dan kembali menyulitkan.

Risiko yang dihadapi bukan sekadar pakaian kotor atau motor mogok. Titin menyimpan luka lama akibat jalan tersebut. Ia pernah terjatuh hingga mengalami keguguran. Pada kesempatan lain, tulang paha kaki kirinya sempat retak akibat kecelakaan di jalan yang sama.

"Pernah jatuh, sampai keguguran dan juga tulang paha kaki kiri saya retak, " ujarnya. 

Ia mengatakan untuk menuju sekolah dari rumahnya tergantung cuaca dan medan jalan. 

"Kalau cuaca bersahabat dan jalanan tidak becek dan banjir, bisa lebih cepat datangnya," ujarnya. 

Ia berharap agar pemerintah segera melakuan perbaikan jalan agar akses pendidikan dan perekonomian warga Sungai Dungun bisa lancar. 

"Semogga pemerintah segera melakukan perbaikan akses jalan di Desa kami, " pungkasnya. (*)

Leave a comment